Bisnis Online Yang Masih Dipandang Sebelah Mata di Indonesia - Bisnis Online kini sudah menjadi sarana baru dalam menghasilkan pundi-pundi uang namun dalam perjalananya di indonesia masih terhambat karena tingkat kepercayaan yang masih kurang terhadap transaksi online yang menyebabkan banyak masyarakat yang masih ragu untuk berbelanja online.
dilain hal persaingan bisnis online lokal yang masih minim modal dengan banyak merebaknya situs bisnis online luar yang menjamuri indonesia, yang menjadikan persaingan bisnis yang tidak sehat.
Pemerintah Indonesia diminta segera melakukan langkah konkret terkait
derasnya situs asing yang membanjiri Tanah Air. Bila tidak segera
dibendung, bakal berdampak tergerusnya perusahaan online lokal yang
umumnya bertaraf masih perusahaan kecil.
Karena itulah, dibutuhkan peran pemerintah untuk melindungi mereka,
terutama untuk membuat ekosistem yang lebih segar dan menjanjikan,
khususnya dalam hal pemodalan yang sulit bersaing dengan online asing.
Ironi tentunya, bila melihat besarnya pengguna internet Tanah Air
yang mencapai angka 84 juta user, tetapi semuanya pengakses situs-situs
luar negeri.
CEO Kaskus Andrew Darwis lebih menyoroti kendala pendanaan bagi
perusahaan online lokal. Menurut dia, tidak banyak investor dalam negeri
yang mau berinvestasi di perusahaan online lokal. Akibatnya banyak
perusahaan online lokal memilih bersinergi dengan asing.
Menurut Andrew, harus dibuat sebuah regulasi yang bisa mendukung
perusahaan online lokal. Selain itu, masih banyak investor lokal yang
kurang percaya dengan potensi pasar onlinedi Tanah Air.
“Bisnis online masih dipandang sebelah mata, itu yang membuat kami
kesulitan mencari investor lokal,”Padahal, menurut dia, jika ditelisik lebih
jauh, industri ekonomi kreatif semacam ini mampu mendatangkan nilai
tambah bagi negara.
Meski ada investor lokal yang mau berinvestasi dengan perusahaan
online lokal, jumlahnya tidak banyak. Kaskus sendiri pernah dilirik
investor asing pada 2010 sampai 2011, tetapi setelah itu mereka menunggu
investor lokal yang mau berinvestasi dengan mereka. Andrew menilai saat
ini Indonesia hampir mirip “dijajah” kembali.
Pasalnya, mulai dari user hingga pasar adalah Indonesia, tetapi
ternyata yang menguasai itu adalah perusahaan online asing. Untuk
mengalahkan asing, dukungan riil dari pemerintah harus segera
diwujudkan. “Saya dengar Jokowi mau buat badan khusus untuk industri
ekonomi kreatif. Kalau itu benar-benar dijalankan, kami bisa optimistis
untuk menyaingi asing,” ujarnya.
Senada dikatakan CMO Tokopedia.com Leontinus bahwa pemerintah harus
membuat sebuah regulasi yang mendukung perusahaan online lokal,
pemerintah juga harus membangun infrastruktur online.
Hal ini agar bisnis online bisa berimbang dengan asing. Selain itu,
menurut Leontinus, khusus untuk bisnis e-commerce, dibutuhkan ide
gemilang dari para pemangku kepentingan di perusahaan online.
“Intinya karena ada asing, kita dapat pelajaran, tapi kita juga harus
bersaing,” ujarnya. Selain dukungan pemerintah, para pebisnis online
Tanah Air juga harus tampil kreatif dalam menghasilkan produka yang
inovatif guna menghadapi gempuran asing yang begitu besar.

No comments:
Post a Comment