Trending

Tuesday, 28 October 2014

Perkembangan Starup Lokal Semakin Pesat


http://studiomarza.blogspot.com/ 

Perkembangan Starup Lokal Semakin Pesat - Indonesia kini bisa dikatakan memiliki perkembangan starup yang sedang pesat bahkan kini muali banyak bermunculan founder-founder baru menawarkan aplikasi-aplikasi starup terbaru yang mereka buat.

Seperti diketahui, banyak dari pelaku bisnis yang terjun di dunia startup adalah anak-anak muda kreatif yang mengkhususkan pada solusi berbasis teknologi yang kemudian mengubahnya menjadi lahan menjanjikan untuk menambah pemasukan uang saku mereka.

Peluang itu tentu tidak ingin disia-siakan para pelaku startup lokal. Terlebih, semenjak banyak inkubator lokal yang mempertemukan pelaku startup lokal dengan perusahaan melalui berbagai ajang nasional. Mereka pun bebas mengekspresikan hasil karyanya. Bahkan, tidak sedikit hasil karyanya yang sudah diakui dan kini dimiliki pihak asing.

Pesatnya pertumbuhan startup di Tanah Air juga tidak terlepas dari tumbuhnya perkembangan teknologi digital dan terus meningkatnya penetrasi internet hingga pelosok negeri dan mencapai angka 82 juta pengguna. Sehingga, startup tumbuh cepat serta bermetamorfosis menjadi bisnis digital.

Wikipedia menjelaskan bahwa startup merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan itu sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Startup juga bisa disebut sebagai perusahaan pemula yang pada umumnya bergerak di bidang teknologi informasi dengan internet sebagai platform media utama. Sebab, memang istilah startup banyak “dikawinkan” dengan segala yang berbau teknologi, website, internet, dan sekitar ranah tersebut.
Meskipun Indonesia tertinggal jauh dari bangsa lain, yakni geliat Indonesia yang baru terlihat pada era 2000, saat ini tercatat lebih dari 2.500 startup lokal dengan 5.000 aplikasi telah dihasilkan developer muda Indonesia. Secara kasat mata industri digital kreatif ini belum terlihat dengan jelas. Tetapi secara fakta, jumlah tersebut tergolong besar.

“Saat ini saja, di Indonesia sudah lebih dari 4.000 aplikasi di BlackBerry World buatan developer lokal Indonesia. Belum lagi ribuan aplikasi Android yang dikembangkan di SMK, dan ada 5.500 lebih aplikasi di Nokia Store buatan developer lokal Indonesia,” kata Onno W Purbo, praktisi teknologi industri digital kreatif Indonesia,

Meski demikian, semua tidak bisa tumbuh dengan baik apabila tidak ada dukungan pemerintah dan modal untuk mengembangkan bisnisnya. Jika dalam hal perizinan untuk membuat perusahaan sendiri dipersulit, bagaimana mereka tidak akan menyerahkan hasil karyanya ke pihak asing. Itulah yang terjadi sekarang.

“Sah-sah saja, dan sebenarnya positif (diambil asing), karena mendapat pengakuan. Akan tetapi, lebih baik mereka membuat dan mengembangkan perusahaan sendiri,” tuturnya.
“Itulah yang kita harapkan sebenarnya, akan lebih baik mereka bisa hidup sebagai developer independen, untuk membuat dan mengembangkan perusahaan sendiri. Apalagi produk Indonesia punya kualitas tinggi,” jelasnya.

Terbukti, perusahaan yang dulunya hanyalah startup, kini sudah menjelma menjadi perusahaan dengan omzet ratusan juta hingga miliaran rupiah. Hal itu membuktikan orang Indonesia memiliki jiwa bisnis yang tinggi. Bahkan, sejumlah pakar menjuluki pelaku bisnis digital ini sebagai generasi baru bisnis di Tanah Air.

Perhatian Asing
Terkadang harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Bukan pemerintah atau perusahaan lokal, justru banyak perusahaan asing yang menaruh perhatian lebih terhadap startup lokal Indonesia. Entah apa tujuannya?

Baidu.com dan Microsoft, misalnya. Mereka mengaku peduli akan perkembangan dan kemajuan bisnis digital di Indonesia. Melalui kegiatan roadshow mencari startup-startup muda, Baidu –perusahaan layanan internet bekerja sama dengan Tech in Asia– menggelar roadshow di beberapa kota di Indonesia.

Gelaran Finding Top 50 Local Apps telah rampung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan menyusul kota besar berikutnya yang bertujuan untuk mendorong potensi startup lokal di Indonesia.

“Kami peduli pada developer aplikasi. Kami mendukung developer lokal. Apalagi, setiap developer tentu memiliki mimpi dan harapan di masa depan,” kata Bryan Lee, Head of Business Development Baidu,

Melalui harapan, pengguna di Indonesia tentu bangga dan tertarik menggunakan aplikasi buatan developer lokal. Lebih lanjut ia mengungkapkan, pihaknya di tahun ini tengah menerapkan cara developer lokal bisa tumbuh dan menghasilkan aplikasi menarik. Menurutnya, saat ini yang utama ialah menghasilkan aplikasi terbaik non-komersial.

Sementara, Microsoft sebagai pelaku usaha teknologi besar dunia berupaya membantu perusahaan dan UKM Indonesia dari segi produktivitas dan daya saing. Banyak perusahaan serta usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia yang dimiliki oleh kaum muda.

Melalui ajang TechDays 2014, Microsoft memberi kesempatan bagi 1.500 pemimpin teknologi informasi (TI), profesional, developer, dan pelanggan Microsoft dari perusahaan dan UKM yang dipimpin anak muda Indonesia untuk berkreasi dan mengembangkan potensi.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Andreas Diantoro, mengatakan bahwa peserta dapat mengevaluasi berbagai layanan dan solusi yang kebanyakan ada pada platform mobile dan cloud.
“Para peserta dapat mengevaluasi berbagai layanan dan solusi yang kebanyakan ada pada platform mobile dan cloud di acara ini. Mereka dapat memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Andreas.

Tantangan
Di balik menggiurkannya bisnis digital kreatif di Indonesia ini, membangun bisnis startup tidak selamanya mulus-mulus saja. Hambatan pasti ada dan itu menjadi tantangan bagi siapa pun pelakunya. Jatuh dan bangun merupakan hal biasa, dan pastinya sering dialami oleh pelaku startup.
Kaskus, misalnya. Ketika dibangun pada 1999 oleh Andrew Darwis, tidak akan sehebat sekarang ini bila sebelumnya pernah mengalami keterpurukan dalam menjalankan bisnisnya.

Selama perjalanan Kaskus, ternyata tidak semulus yang diperkirakan Chief Executife Officer (CEO) Kaskus, Ken Dean Lawadinata. Kaskus pernah mengalami berbagai kesulitan, bahkan sempat ditipu. Dua minggu kaskus mati total, seluruh data hilang tak berbekas.

Selepas dari keterpurukan, Kaskus bangkit dan berkembang lagi. Data terakhir yang diperoleh Okezone, Juli 2012, situs besutan tiga sahabat: Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan tersebut memperoleh 5,6 juta member. Bahkan pada 2013, kata Ken, Kaskus mencatatkan 20 juta unique user per bulan.

Lain dengan CEO Educa Studio, Andi Taru, yang mengisahkan tantangan yang dihadapi startup saat ini. Baginya, tantangan terberat adalah persaingan global yang semakin terbuka dan tidak ada batasan. Perlu regulasi khusus sehingga "Konten Lokal dapat Menjadi Raja di Negeri Sendiri".
“Saat ini, peran pemerintah menjadi sangat vital. Bagaimana membuat regulasi yang dapat menguntungkan startup lokal daripada developer-developer global yang masuk ke pasar Indonesia,” tuturnya.

Dengan demikian, startup lokal bakal mendapat kesempatan tumbuh dan mendapat hak yang sama dengan perusahaan digital luar negeri yang sudah dahulu memperoleh penghasilan di negeri ini.

No comments:

Post a Comment

Distributed By Marza Studio | Designed By Donni Marza